May 11, 2009

I. EMERGING MARKET : Hongkong Exchange ( HKEx )
SEJARAH
Pada tahun pada tahun 1891 saat Association of Stockbrokers di Hongkong didirikan, Hongkong memiliki pasar modal informal pertama yang bernama The Hong Kong Stock. Pada tahun 1972, Hong Kong memiliki empat bursa saham yang beroperasi yang kemudian menjadi satu. The Stock Exchange of Hong Kong Limited menjadi perseroan terbatas pada tahun 1980 dan bertransaksi pada pasar modal dimulai pada 2 April 1986. Kemudian, pada tahun 1987, kecacatan pasar diungkapkan dan mendorong adanya perubahan dari industry sekuritas di Hongkong dan kemudian dibuat suatu lembaga regulasinya yang bernama Securities and Futures Commission (SFC) dan kemudian disusul dengan lembaga lain yaitu Exchange of the Central Clearing and Settlement System (CCASS) pada Juni 1992 dan the Automatic Order Matching and Execution System (AMS) pada November 1993. Semakin berkembangnya pasar dan produk yang ditawarkan ditunjukkan dengan diterbitkannya derivative warrant pertama pada Februari 1988, terdaftarnya perusahaan terbatas Cina pertama pada Juli 1993, pengenalan regulasi short selling pada Januari 1994 dan stock options pada September 1995. Kemudian HKEx memperkenalkan GEM (Growth Enterprise Market) pada November 1999 untuk menyediakan kesempatan perrtumbuhan dana dari perusahaan yang berkembang dari semua ukuran industri dan untuk memperkenalkan perkembangan teknologi industri. Pada Maret 1999, The Exchange, The Hongkong Futures Exchange dan lembaga kliring melakukan merger dan membentuk perusahaan baru yaitu The Hong Kong Exchanges and Clearing Limited.
DATA PERUSAHAAN LISTED
Hongkong Stock Exchange adalah pasar saham terbesar ketiga di dunia dengan jumlah perusahaan listed tercatat 3989 perusahaan.

PRODUK
Tipe produk yang diperdagangkan di Hongkong Stock Exchange menurut website resmi pasar modal Hong Kong antara lain :
a. Securities market :
– Understanding risks of securities traded on the exchange, Equity, Derivative warrant resource centre, Callable bull/bear contracts, Market access products, Listed equity linked instrument, Exchange traded funds, Unit trust/mutual funds, bonds, pilot programme for trading US securities.
b. Derivatives market :
– Risk disclosure market, equity index product, equity products, interest rate and fixed income products, gold futures.
INDEXS
Indexs yang digunakan di Hongkong Stock Exchange adalah Hang Seng Indexs. Hang Seng Index (HSI) adalah indeks harga saham di pasar modal Hong Kong yang dihitung dengan menggunakan metode kapitalisasi pasar tertimbang bebas-disesuaikan. Indeks ini digunakan untuk memonitor dan mencatat perubahan harian dari perusahaan-perusahaan terbesar di pasar modal Hong Kong dan merupakan indikator utama untuk kinerja keseluruhan pasar di Hong Kong. Saat ini Hang Seng terdiri dari 43 perusahaan dan mewakili sekitar 65% dari kapitalisasi Hong Kong Stock Exchange. Pada 2 Januari 1985, empat sub-indeks dibuat untuk membuat indeks saham ini lebih jelas dan mengklasifikasikan saham-saham yang ada ke dalam empat sector, yaitu Hang Seng Finance Sub Index, Hang Seng Utilities Sub Index, Hang Seng Properties Sub Index, dan Hang Seng Commerce & Industry Sub Index.

DATA INDEXS, KAPITALISASI, DAN VOLUM TRANSAKSI PERIODE 2004-2008
Sebelumnya akan dijelaskan terlebih dahulu pengertian dari indexs, kapitalisasi dan volum transaksi:
– Kapitalisasi pasar, sering kali disingkat kap pasar, adalah sebuah istilah bisnis yang menunjuk ke harga keseluruhan dari sebuah saham perusahaan yaitu sebuah harga yang harus dibayar seseorang untuk membeli seluruh perusahaan.( Wikipedia )
– volum transaksi adalah total saham yang diperdagangkan.
– indeks adalah angka yg menunjukkan pergerakan nilai transaksi perdagangan saham di suatu bursa saham.
2004 2005 2006 2007 2008
INDEXS 15.740,43 17.025,45 24.378,76 33.708,99 17.891,16
KAPITALISASI 861.462,9 1.054.999,3 1.714.953,3 2.654.416,1 1.328.768,5
VOLUM 4.023.548,0 5.779.815,6 1.710.042,9 4.699.586,8 2.245.148,7

II. DEVELOP MARKET : Australian Securities Exchange ( ASX )
SEJARAH
Australian Securities Exchange ( ASX ) adalah pasar saham utama di Australia. Menurut Wikipedia, The ASX mulai terpisah sebagai negara berbasis pertukaran didirikan seawal 1861. Awalnya, dimulai dari enam pasar saham berbeda, yaitu Bursa Efek di Sydney 1871, diikuti oleh di Hobart tahun 1882, Melbourne dan Brisbane pada tahun 1884, 1887 di Adelaide, dan Perth di 1889. Pada tahun 1985, keenam pasar modal yang terpisah tersebut membahas kemungkinan dilakukannya penggabungan pasar saham, proposal sebagai hasil dari pertemuan tersebut disetujui, kemudian pada tahun 1987, keenam pasar saham tersebut bergabung dengan nama Bursa Efek Australia yang berpusat di Sydney. Pada tahun yang sama, system perdagangan secara elektronik yang disebut SEATS diperkenalkan. Pada tahun 1996, ASX menjadi korporasi dan 1998 mulai masuk ke public dengan melisiting sahamnya sendiri dibawah label ASX.
DATA PERUSAHAAN LISTED
Data perusahaan yang listing di Australian Stock Exchange berjumlah 2790 ( per 31 April 2009 )
PRODUK
Dari situs resmi Australian Stock Exchange, produk yang diperdagangkan di ASX antara lain:
– Saham
– Futures dan options
– REITS
– Dana infrastruktur
– Warrants
– ETFs dan ETCs
– Dana yang dikelola
– Suku bunga surat berharga
– LEPOs
INDEXS
Indeks yang paling populer di Bursa Efek Australia adalah S & P ASX 200 dan All Ordinaries. ASX 200 terdiri dari 200 saham di atas pertukaran. Indexs popular lainnya adalah S&P ASX 300 untuk penilaian yang lebih luas pada performa pasar modal, dan S&P ASX 20 yang dibuat dari 20 saham ASX dengan kapitalisasi pasar yang tinggi.

DATA INDEXS, KAPITALISASI, DAN VOLUM TRANSAKSI PERIODE 2004-2008
2004 2005 2006 2007 2008
INDEXS 4.053,10 4708,80 5.664,30 6.421,00 3.659,30
KAPITALISASI
(dalam juta ) 776.402,8 804.014,8 1.095.858,0 1.298.315,0 683.871,6
VOLUM 269.782,0 269.932,9 318.830,3 470.320,3 386.033,9

III. BURSA EFEK INDONESIA
SEJARAH
Pasar modal Indonesia berawal pada tahun 1912 yang didirikan oleh Belanda dengan nama Vereniging Voor De Effecten. Kemudian dilanjutkan dengan didirikannya bursa di Surabaya dan Semarang pada tahun 1925, namun akibat perang dunia semua bursa ditutup dan diaktifkan kembali pada tahun 1950, kemudian ditutup kembali pada tahun 1958. Tanggal 10 Agustus 1977, pasar modal kembali diaktifkan, saham pertama yang diperdagangkan adalah PT Semen Cibinong.
Tahun 1995, mulai diberlakukan sistem JATS (Jakarta Automatic Trading System). JATS adalah suatu sistem perdagangan di lantai bursa yang secara otomatis me-match kan antara harga jual dan beli saham Sebelum diberlakukannya JATS, transaksi dilakukan secara manual. Misalnya dengan menggunakan papan tulis sebagai papan untuk memasukkan harga jual dan beli saham. Perdagangan saham berubah menjadi scripless trading, yaitu perdagangan saham tanpa warkat (bukti fisik kepemilikkan saham)Lalu dengan seiring kemajuan teknologi, bursa kini menggunakan sistem Remote Trading, yaitu sistem perdagangan jarak jauh.
Bursa Efek Jakarta melakukan merger dengan Bursa Efek Surabaya pada akhir 2007 dan pada awal 2008 berubah nama menjadi Bursa Efek Indonesia.

DATA PERUSAHAAN LISTED
Perusahaan yang listed di BEI berjumlah 397 perusahaan.
PRODUK
Produk yang ditawarkan di BEI antara lain :
– Saham
– Produk turunan
– Produk syariah
– Obligasi
– Reksa dana
INDEXS
Indexs yang digunakan sebagai acuan Bursa Efek Indonesia antara lain :
a. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), menggunakan semua emiten yang tercatat sebagai komponen perhitungan indeks.
b. Indeks Sektoral, menggunakan semua emiten yang termasuk dalam masing-masing sektor.
c. Indeks LQ45, menggunakan 45 emiten yang dipilih berdasarkan kriteria likuiditas dan kapitalisasi pasar, dengan kriteria-kriteria yang telah ditentukan.
d. Jakarta Islamic Index (JII), menggunakan 30 emiten yang masuk dalam kriteria syariah dan termasuk saham yang memiliki kapitalisasi besar dan likuiditas tinggi.
e. Indeks Kompas100, menggunakan 100 saham yang dipilih berdasarkan kriteria likuiditas dan kapitalisasi pasar, dengan kriteria-kriteria yang telah ditentukan.
f. Indeks Papan Utama, menggunakan emiten yang masuk dalam kriteria papan utama.
g. Indeks Papan Pengembangan, menggunakan emiten yang masuk dalam kriteria papan pengembangan.
h. Indeks Individual, yaitu indeks harga saham masing-masing emiten

DATA INDEKS, KAPITALISASI, DAN VOLUM TRANSAKSI PERIODE 2004-2008
2004 2005 2006 2007 2008
INDEKS 1.000,23 1.162,64 1.805,52 2.745,83 1.355,41
KAPITALISASI ( dalam juta ) 73.250,6 81.428,1 138.886,4 211.693,0 98.760,6
VOLUM ( dalam juta ) 411.768,3 401.868,0 436.935,6 1.039.542,5 787.845,8

ANALISIS PERBANDINGAN :
Dari data dapat dilihat bahwa walaupun Hong Kong Stock Exchage termasuk emerging capital market namun jumlah perusahaan yang listed lebih banyak dibandingkan dengan Australian Stock Exchange yang tergabung dalam developed market. Bahkan untuk tingkat kapitalisasi, indeks pasar dan volume perdagangan, Hong Kong Stock Exchange lebih tinggi dibandingkan dengan Australian Stock Exchange. Untuk Indonesia sendiri yang termasuk emerging market dengan peringkat B3, baik jumlah perusahaan yang listed maupun indeks pasar, kapitalisasi dan volume perdagangan jauh lebih rendah dibanding kedua pasar saham tersebut.
Pada dasarnya terjadi perkembangan yang signifikan dari tahun ke tahun pada ketiga pasar modal tersebut, namun pada tahun 2008, ketiga pasar saham sama-sama mengalami penurunan dalam tingkat indeks pasar, kapitalisasi dan volum perdagangan. Hal ini karena mulai tahun 2008 hingga akhir, perekonomian finansial dunia memasuki masa krisis akibat kasus subprime mortage di Amerika. Di Australia, lebih dari $27 milyar nilai saham Australia lenyap akibat Indeks All Ordinaries jatuh 177,8 titik atau lebih dari 7 persen, yang merupakan keempat terburuk dalam sejarah. Akibatnya, dolar Australia langsung merosot hingga mencapai 69,41 dolar AS. ( Mudrajad, 2008 ).

indikator perekonomian indonesia

February 16, 2009

INDIKATOR PEREKONOMIAN INDONESIA

Yang dimaksud dengan indicator perekonomian adalah data yang digunakan untuk menentukan perkembangan ekonomi suatu Negara yang dikeluarkan oleh pemerintah di Negara bersangkutan. Indicator ekonomi digunakan sebagai pertanda tentang perkembangan pembangunan di masa lampau maupun untuk masa mendatang . Indicator ekonomi memberikan gambaran secara makro dan terkadang juga menjadi penentu aspek pemerataan pembangunan.
Ada banyak indicator perekonomian suatu Negara, antara lain :
a. gross domestic product ( GDP ) yang di dalamnya terdapat konsumsi personal, pembelian pemerintah, persediaan, dan neraca perdagangan (ekspor dan impor)
b. inflasi
c. tingkat pengangguran

Gross Domestic Product ( GDP )
GDP atau PDB ( Produk Domestik Bruto ) adalah nilai keseluruhan semua barang dan jasa yang diproduksi di dalam wilayah tersebut dalam jangka waktu tertentu (biasanya per tahun). PDB hanya menghitung total produksi dari suatu negara tanpa memperhitungkan apakah produksi itu dilakukan dengan memakai faktor produksi dalam negeri atau tidak. PDB terbagi atas dua yaitu PDB real dan PDB nominal. PDB real adalah salah satu indikator yang paling banyak bicara mengenai kondisi perekonomian dan perilisan data awal hampir selalu menggerakkan pasar. Selain itu, PDB real merupakan indikator yang paling banyak diamati, didiskusikan, dan diestimasi oleh para ahli ekonomi, analisis pasar, investor, dan pembuat kebijakan.
Rumus menghitung PDB :
PDB = konsumsi + investasi + pengeluaran pemerintah + ekspor – impor
Manfaat PDB itu antara lain sebagai berikut :
a) Laju pertumbuhannya untuk mengukur kemajuan ekonomi sebagai hasil pembangunan nasional.
b) Pendapatan per kapitanya dipergunakan untuk mengukur tingkat kemakmuran penduduk, sebab semakin meningkat pendapatan per kapita dengan harga konstan (pendapatan per kapita riil) semakin tinggi tingkat kemakmuran penduduk dan juga produktivitasnya.
c) Sebagai dasar pembuatan proyeksi/perkiraan penerimaan negara untuk perencanaan pembangunan nasonal/sektoral & regional.
d) Sebagai dasar penentuan prioritas pemberian bantuan luar negeri oleh bank dunia atau lembaga internasional lainnya.
e) Sebagai dasar pembuatan prakiraan bisnis, khususnya peramalan penjualan bagi perusahaan untuk dasar penyusunan perencanaan produk dan perencanaan sumber daya (tenaga kerja & modal).

INFLASI
Inflasi adalah suatu proses meningkatnya harga-harga secara umum dan terus-menerus (kontinu). Dengan kata lain, inflasi juga merupakan proses menurunnya nilai mata uang secara kontinu. Inflasi dianggap terjadi jika proses kenaikan harga berlangsung secara terus-menerus dan saling pengaruh-mempengaruhi.
Inflasi dapat terjadi karena dua hal yaitu karena tarikan permintaan dan desakan biaya. Untuk tarikan permintaan, akibat adanya permintaan total yang berlebihan sehingga terjadi perubahan pada tingkat harga. Bertambahnya permintaan terhadap barang dan jasa mengakibatkan bertambahnya permintaan terhadap faktor-faktor produksi. Meningkatnya permintaan terhadap faktor produksi itu kemudian menyebabkan harga faktor produksi meningkat. Pada kasus desakan biaya, inflasi terjadi karena meningkatnya biaya produksi (input) sehingga mengakibatkan harga produk-produk (output) yang dihasilkan ikut naik.
Secara umum, inflasi dapat mengakibatkan berkurangnya investasi di suatu negara, mendorong kenaikan suku bunga, mendorong penanaman modal yang bersifat spekulatif, kegagalan pelaksanaan pembangunan, ketidakstabilan ekonomi, defisit neraca pembayaran, dan merosotnya tingkat kehidupan dan kesejahteraan masyarakat. Bank sentral suatu negara pada umumnya berusaha mengendalikan tingkat inflasi pada tingkat yang wajar.

PENGANGGURAN
Pengangguran dapat dihubungkan dengan indicator pertumbuhan ekonomi karena pertumbuhan ekonomi merupakan akibat dari adanya peningkatan kapasitas produksi yang merupakan turunan dari peningkatan investasi. Jadi jelas bahwa, pertumbuhan ekonomi berhubungan erat dengan peningkatan penggunaan tenaga kerja, begitu pula dengan investasi. Dengan meningkatnya investasi pasti permintaan tenaga kerja akan bertambah, sehingga dengan adanya pertumbuhan ekonomi yang diakibatkan adanya peningkatan investasi berpengaruh terhadap penurunan tingkat pengangguran, demikian sebaliknya.
Semakin tinggi tingkat pengangguran maka daya beli produk yang dihasilkan akan mengalami penurunan, yang berarti pergerakan perekonomian akan mengalami hambatan.

dampak krisis finansial global terhadap sektor trasnportasi

December 4, 2008

<!– /* Font Definitions */ @font-face {font-family:Wingdings; panose-1:5 0 0 0 0 0 0 0 0 0; mso-font-charset:2; mso-generic-font-family:auto; mso-font-pitch:variable; mso-font-signature:0 268435456 0 0 -2147483648 0;} @font-face {font-family:”Cambria Math”; panose-1:2 4 5 3 5 4 6 3 2 4; mso-font-charset:1; mso-generic-font-family:roman; mso-font-format:other; mso-font-pitch:variable; mso-font-signature:0 0 0 0 0 0;} @font-face {font-family:Calibri; panose-1:2 15 5 2 2 2 4 3 2 4; mso-font-charset:0; mso-generic-font-family:swiss; mso-font-pitch:variable; mso-font-signature:-1610611985 1073750139 0 0 159 0;} @font-face {font-family:Verdana; panose-1:2 11 6 4 3 5 4 4 2 4; mso-font-alt:Verdana; mso-font-charset:0; mso-generic-font-family:swiss; mso-font-pitch:variable; mso-font-signature:536871559 0 0 0 415 0;} /* Style Definitions */ p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal {mso-style-unhide:no; mso-style-qformat:yes; mso-style-parent:””; margin-top:0in; margin-right:0in; margin-bottom:10.0pt; margin-left:0in; line-height:115%; mso-pagination:widow-orphan; font-size:11.0pt; font-family:”Calibri”,”sans-serif”; mso-ascii-font-family:Calibri; mso-ascii-theme-font:minor-latin; mso-fareast-font-family:Calibri; mso-fareast-theme-font:minor-latin; mso-hansi-font-family:Calibri; mso-hansi-theme-font:minor-latin; mso-bidi-font-family:”Times New Roman”; mso-bidi-theme-font:minor-bidi;} p.MsoBodyTextIndent2, li.MsoBodyTextIndent2, div.MsoBodyTextIndent2 {mso-style-priority:99; mso-style-unhide:no; mso-style-link:”Body Text Indent 2 Char”; mso-style-next:Normal; margin:0in; margin-bottom:.0001pt; mso-pagination:widow-orphan; mso-layout-grid-align:none; text-autospace:none; font-size:12.0pt; font-family:”Verdana”,”sans-serif”; mso-fareast-font-family:Calibri; mso-fareast-theme-font:minor-latin; mso-bidi-font-family:”Times New Roman”; mso-bidi-theme-font:minor-bidi;} p.MsoListParagraph, li.MsoListParagraph, div.MsoListParagraph {mso-style-priority:34; mso-style-unhide:no; mso-style-qformat:yes; margin-top:0in; margin-right:0in; margin-bottom:10.0pt; margin-left:.5in; mso-add-space:auto; line-height:115%; mso-pagination:widow-orphan; font-size:11.0pt; font-family:”Calibri”,”sans-serif”; mso-ascii-font-family:Calibri; mso-ascii-theme-font:minor-latin; mso-fareast-font-family:Calibri; mso-fareast-theme-font:minor-latin; mso-hansi-font-family:Calibri; mso-hansi-theme-font:minor-latin; mso-bidi-font-family:”Times New Roman”; mso-bidi-theme-font:minor-bidi;} p.MsoListParagraphCxSpFirst, li.MsoListParagraphCxSpFirst, div.MsoListParagraphCxSpFirst {mso-style-priority:34; mso-style-unhide:no; mso-style-qformat:yes; mso-style-type:export-only; margin-top:0in; margin-right:0in; margin-bottom:0in; margin-left:.5in; margin-bottom:.0001pt; mso-add-space:auto; line-height:115%; mso-pagination:widow-orphan; font-size:11.0pt; font-family:”Calibri”,”sans-serif”; mso-ascii-font-family:Calibri; mso-ascii-theme-font:minor-latin; mso-fareast-font-family:Calibri; mso-fareast-theme-font:minor-latin; mso-hansi-font-family:Calibri; mso-hansi-theme-font:minor-latin; mso-bidi-font-family:”Times New Roman”; mso-bidi-theme-font:minor-bidi;} p.MsoListParagraphCxSpMiddle, li.MsoListParagraphCxSpMiddle, div.MsoListParagraphCxSpMiddle {mso-style-priority:34; mso-style-unhide:no; mso-style-qformat:yes; mso-style-type:export-only; margin-top:0in; margin-right:0in; margin-bottom:0in; margin-left:.5in; margin-bottom:.0001pt; mso-add-space:auto; line-height:115%; mso-pagination:widow-orphan; font-size:11.0pt; font-family:”Calibri”,”sans-serif”; mso-ascii-font-family:Calibri; mso-ascii-theme-font:minor-latin; mso-fareast-font-family:Calibri; mso-fareast-theme-font:minor-latin; mso-hansi-font-family:Calibri; mso-hansi-theme-font:minor-latin; mso-bidi-font-family:”Times New Roman”; mso-bidi-theme-font:minor-bidi;} p.MsoListParagraphCxSpLast, li.MsoListParagraphCxSpLast, div.MsoListParagraphCxSpLast {mso-style-priority:34; mso-style-unhide:no; mso-style-qformat:yes; mso-style-type:export-only; margin-top:0in; margin-right:0in; margin-bottom:10.0pt; margin-left:.5in; mso-add-space:auto; line-height:115%; mso-pagination:widow-orphan; font-size:11.0pt; font-family:”Calibri”,”sans-serif”; mso-ascii-font-family:Calibri; mso-ascii-theme-font:minor-latin; mso-fareast-font-family:Calibri; mso-fareast-theme-font:minor-latin; mso-hansi-font-family:Calibri; mso-hansi-theme-font:minor-latin; mso-bidi-font-family:”Times New Roman”; mso-bidi-theme-font:minor-bidi;} span.BodyTextIndent2Char {mso-style-name:”Body Text Indent 2 Char”; mso-style-priority:99; mso-style-unhide:no; mso-style-locked:yes; mso-style-link:”Body Text Indent 2″; mso-ansi-font-size:12.0pt; mso-bidi-font-size:12.0pt; font-family:”Verdana”,”sans-serif”; mso-ascii-font-family:Verdana; mso-hansi-font-family:Verdana;} .MsoChpDefault {mso-style-type:export-only; mso-default-props:yes; mso-ascii-font-family:Calibri; mso-ascii-theme-font:minor-latin; mso-fareast-font-family:Calibri; mso-fareast-theme-font:minor-latin; mso-hansi-font-family:Calibri; mso-hansi-theme-font:minor-latin; mso-bidi-font-family:”Times New Roman”; mso-bidi-theme-font:minor-bidi;} .MsoPapDefault {mso-style-type:export-only; margin-bottom:10.0pt; line-height:115%;} @page Section1 {size:8.5in 11.0in; margin:1.0in 1.0in 1.0in 1.0in; mso-header-margin:.5in; mso-footer-margin:.5in; mso-paper-source:0;} div.Section1 {page:Section1;} /* List Definitions */ @list l0 {mso-list-id:147478493; mso-list-type:hybrid; mso-list-template-ids:-1504947404 67698709 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715;} @list l0:level1 {mso-level-number-format:alpha-upper; mso-level-tab-stop:none; mso-level-number-position:left; text-indent:-.25in;} @list l1 {mso-list-id:939139094; mso-list-type:hybrid; mso-list-template-ids:367184896 67698689 67698691 67698693 67698689 67698691 67698693 67698689 67698691 67698693;} @list l1:level1 {mso-level-number-format:bullet; mso-level-text:; mso-level-tab-stop:none; mso-level-number-position:left; text-indent:-.25in; font-family:Symbol;} @list l2 {mso-list-id:1031413824; mso-list-type:hybrid; mso-list-template-ids:1482348298 67698713 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715;} @list l2:level1 {mso-level-number-format:alpha-lower; mso-level-tab-stop:none; mso-level-number-position:left; text-indent:-.25in;} @list l3 {mso-list-id:1088381028; mso-list-type:hybrid; mso-list-template-ids:969179472 67698691 67698691 67698693 67698689 67698691 67698693 67698689 67698691 67698693;} @list l3:level1 {mso-level-number-format:bullet; mso-level-text:o; mso-level-tab-stop:none; mso-level-number-position:left; margin-left:1.0in; text-indent:-.25in; font-family:”Courier New”;} @list l4 {mso-list-id:1672561837; mso-list-type:hybrid; mso-list-template-ids:1438172670 67698691 67698691 67698693 67698689 67698691 67698693 67698689 67698691 67698693;} @list l4:level1 {mso-level-number-format:bullet; mso-level-text:o; mso-level-tab-stop:none; mso-level-number-position:left; margin-left:1.0in; text-indent:-.25in; font-family:”Courier New”;} ol {margin-bottom:0in;} ul {margin-bottom:0in;} –>


/* Style Definitions */
table.MsoNormalTable
{mso-style-name:”Table Normal”;
mso-tstyle-rowband-size:0;
mso-tstyle-colband-size:0;
mso-style-noshow:yes;
mso-style-priority:99;
mso-style-qformat:yes;
mso-style-parent:””;
mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt;
mso-para-margin-top:0in;
mso-para-margin-right:0in;
mso-para-margin-bottom:10.0pt;
mso-para-margin-left:0in;
line-height:115%;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:11.0pt;
font-family:”Calibri”,”sans-serif”;
mso-ascii-font-family:Calibri;
mso-ascii-theme-font:minor-latin;
mso-hansi-font-family:Calibri;
mso-hansi-theme-font:minor-latin;}

A. DESKRIPSI SEKTOR TRANSPORTASI INDONESIA

Sektor transportasi di Indonesia baik sebagai infrastruktur maupun layanan jasa adalah suatu urat nadi utama kegiatan perekonomian yang pada gilirannya akan menentukan tingkat keunggulan daya saing suatu perekonomian. Ketersediaan prasarana dan sarana yang mencukupi dan efektif, serta tumbuhnya industri jasa yang efisien dan berdaya saing tinggi pada setiap sektor perhubungan, baik darat, laut maupun udara, akan menentukan kecepatan pertumbuhan perekonomian Indonesia mengatasi persaingan global yang makin ketat dan berat. Infrastruktur sektor transportasi Indonesia menurut survey World Economic Forum (WEF) menempati peringkat 91 dari 131 negara yang disurvey.

Menurut Departemen Perhubungan, sektor transportasi Indonesia terbagi atas :

· Sub sektor perhubungan darat :

o Kendaraan bermotor penumpang umum : bus, mikro bus, mikrolet, minibus, taxi.

o Kendaraan bermotor bukan umum ( kendaraan pribadi ) : sepeda motor, mobil

o perkeretaapian

· Sub sektor perhubungan laut

Elemen kegiatannya : angkutan laut, pelabuhan, kenavigasian, kesatuan penjagaan laut dan pantai, kelaiaklautan kapal.

Usaha penunjang angkutan laut : Jasa Pengurusan Transportasi (Freight Forwarder), Perusahaan Bongkar Muat (PBM) dan EMKL serta customer/user termasuk asosiasi pelayaran dan shippers council, khususnya untuk menjaga keseimbangan supply-demand, keseimbangan kepentingan penyedia dan pengguna jasa serta untuk meningkatkan nilai tambah jasa transportasi laut.

· Sub sektor perhubungan udara

o Angkutan udara niaga : PT.GARUDA INDONESIA, PT DIRGANTARA AIR SERVICE, PT MANDALA AIRLINE, PT BOURAQ SERVICE, PT LION MENTARI AIR, dll.

o Angkutan kargo udara

o Rute perintis

Penggunaan transportasi darat merupakan sektor transportasi yang paling besar penggunaanya, dengan persentase 99 % untuk penumpang dan 97 % persen untuk barang ( survey Dephub tahun 2001 ). Hal ini juga tercermin dari penggunaan BBM, dimana dari 60 % BBM yang digunakan dalam sektor transportasi, rinciannya, 45 % dipergunakan oleh pengguna transportasi darat kendaraan pribadi dan 15 % digunakan untuk transportasi darat kendaraan umum, laut, udara dan ASDP.

Sebagai gambaran luas, kondisi transportasi di Indonesia saat ini masih mengalami hambatan yang belum mendapatkan perhatian serius dari pemerintah. Hal-hal tersebut antara lain:

a. terbatasnya dukungan pembiayaan dari dunia perbankan maupun lembaga keuangan non-bank dalam member pinjaman kredit mengakibatkan industri transportasi saat ini sulit berkembang. Menurut Menteri Perhubungan Jusman Syafii Djamal, hal itu karena industri transportasi masih dianggap sebagai sektor usaha high risk (risiko tinggi) dan slow and low yielding.

b. tingkat keamanan dan keselamatan transportasi nasional belum memenuhi persyaratan atau standar internasional.

c. kondisi infrastruktur perhubungan Indonesia dewasa ini pada setiap sektor jasa transportasi tidak memadai untuk kelancaran arus transportasi penumpang dan barang

B. DAMPAK KRISIS FINANSIAL GLOBAL TERHADAP SEKTOR TRANSPORTASI

Gejolak ekonomi dunia yang dimulai dari krisis harga minyak global ini telah banyak memakan korban dari berbagai sektor perekonomian yang ada di setiap negara. Hal ini semakin diperburuk dengan terjadinya krisis keuangan di Amerika Serikat (AS) yang dipicu subprime mortgage buble crisis yang terus berlarut. Bagi Indonesia, krisis ini akan memiliki dampak yang saling terkait di berbagai sektor, dimana salah satunya adalah sektor transportasi yang merupakan urat nadi perekonomian Indonesia. Kenaikan biaya transportasi akibat krisis perekonomian global diprediksi menyulitkan industri logistik di Indonesia dalam menjalankan usahanya di tengah permintaan pasar akan penurunan tarif layanan. Ketua Umum Asosiasi Logistik Indonesia Zaldi Masita mengatakan melemahnya nilai tukar rupiah dalam jangka pendek akan berdampak pada kenaikan beberapa komponen impor yang terkait dengan sarana transportasi.

Terpengaruhnya sektor transportasi darat kita dapat dipahami sebagai dampak kenaikan harga minyak yang merupakan salah satu efek dari krisis global yang terjadi. Dimana di Indonesia sejak terjadinya krisis global telah mengalami kenaikan harga BBM yang cukup signifikan. Pada sektor transportasi darat, kenaikan ini sangat dirasakan oleh organisasi yang bergerak pada usaha angkutan umum, mereka harus menaikkan tarif angkutan mereka untuk menutupi biaya bahan bakar yang semakin tinggi. Seperti yang terjadi di Gresik, kenaikan harga BBM yang mencapai 28,7% mengakibatkan kenaikan 25% tariff angkutan kota dari Rp 2000 menjadi Rp 2500. Dari data yang diperoleh, kenaikan tariff angkatan umum mengalami perubahan yang bervariasi, dari 16% ( Bandung dan Tangerang ) hingga 50% ( usulan organda Lampung ). Selain karena naiknya BBM, kenaikan harga suku cadang juga memberatkan kendaraan angkutan umum seperti harga suku cadang bus. Ketua Umum Organisasi Pengusaha Angkutan Darat (Organda) Murphy Hutagalung mengungkapkan kenaikan suku cadang kendaraan umum memicu kenaikan biaya operasi hingga 30%. Kenaikan harga suku cadang yang terjadi dapat misalnya, ban mobil yang semula Rp600 ribu hingga Rp800 ribu sekarang bisa Rp1,4 juta. Organda menilai biaya transportasi akan meningkat jika pemerintah tidak segera memberikan tambahan subsidi pada angkutan umum atau mengambil kebijakan mengamankan harga komponen suku cadang untuk angkutan umum dan barang.

Sektor transportasi udara juga terkena imbas yang cukup signifikan akibat krisis global tersebut. Menurut Sekjen Indonesia National Air Carriers Association (INACA), Tengku Burhanuddin, dampak yang paling dirasakan oleh industri penerbangan ialah kesulitan dalam mengembangkan armada serta beban operasional yang meningkat akibat naiknya nilai tukar dollar AS. Sebab semua pembelian dan penyewaan pesawat menggunakan dollar AS. Sedangkan pemasukan, seperti penjualan tiket masakapai penerbangan dilakukan dengan transaksi mata uang rupiah, sehingga secara otomatis mengakibatkan airlines sulit untuk menututupi biaya yang dikeluarkan. Komponen BBM sendiri telah mempengaruhi beban operasional maskapai mencapai 60 persen. Padahal beberapa tahun lalu, komponen tersebut hanya berkontribusi sekitar 40 persen. Manajemen maskapai penerbangan juga dihadapkan pada beban pembelian avtur (bahan bakar minyak pesawat) di mana maskapai wajib membayar PPN sebesar 10 persen. Padahal, komponen avtur dari operasional pesawat cukup tinggi, yaitu sebesar 45 persen. Lonjakan biaya itu dikhawatirkan memperburuk arus kas maskapai nasional yang pada gilirannya memaksa maskapai mengurangi penerbangan. Berdasarkan peraturan, pengisian avtur tersebut disesuaikan dengan dua kali jarak tempuh pesawat. Akibatnya, perusahaan penerbangan menaikkan tarif harga pesawat, namun kondisi pasar yang lesu akibat naiknya sejumlah barang-barang kebutuhan masyarakat telah mempengaruhi daya beli masyarakat terutama para pengguna transportasi udara. Perlambatan pertumbuhan jumlah penumpang angkutan udara di dalam negeri semakin nyata. Selama Januari-Oktober tahun ini, jumlah penumpang penerbangan domestik hanya tumbuh 4,75% menjadi 26,4 juta orang. Hal ini berbeda dengan kondisi 2007, di mana arus penumpang pesawat di dalam negeri melonjak 20% dibandingkan dengan 2006. Data yang dirilis IATA menyebutkan kerugian industri penerbangan selama masa krisis global ini mencapai US$5,2 miliar dan berpotensi menyebabkan kebangkrutan pada 26 airlines.

Pada sektor transportasi laut, Sebanyak 60% atau sekitar 700 perusahaan forwarder di DKI Jakarta bangkrut akibat dampak krisis ekonomi global saat ini. Kondisi itu memicu terjadinya pemutusan hubungan kerja terhadap ribuan karyawan yang bekerja di sektor jasa transportasi itu. Dampak krisis global juga dapat dilihat dari perusahaan jasa transportasi laut PT Humpuss Intermoda Transportasi Tbk (HITS) membatalkan pembelian dua unit kapal Panamax senilai US$ 170 juta dari Jepang akibat dampak krisis keuangan global yang memicu terjadinya penurunan permintaan sewa kapal. Penurunan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS yang cukup tajam menyebabkan harga suku cadang kapal melonjak hingga dua kali lipat. Akibatnya, pengusaha kapal penyeberangan terpaksa beralih ke suku cadang bukan asli (non-original) karena lebih murah.

Karena kondisi likuiditas yang seret, dampaknya berakibat pada menurunnya permintaan sewa jasa pengangkutan lewat laut. Maka, terjadi penurunan tarif sewa kapal. Dari yang semula tarif sewa US$ 40 ribu per hari turun menjadi sekitar US$ 7.000 per hari. Hal ini dilakukan untuk agar perusahaan kapal pengangkut tidak kalah bersaing dan tidak menganggur dan dapat memperebutkan muatan barang. Selain itu banyak perusahaan yang juga mengurangi armadanya.

Proyeksi penurunan ekspor ke AS dan Eropa sebab otomatis terjadi gangguan pesanan ulang atau repeat order untuk periode tiga sampai enam bulan mendatang. Akibatnya pendapatan dari usaha pelayaran akan berkurang dan menyebabkan investasi di pelayaran terganggu. Hal itu terbukti dari kondisi pada jumlah barang yang diangkut oleh kapal laut, selama Januari-Oktober 2008, jumlah barang yang diangkut sekira 135,74 juta ton atau mengalami penurunan 4,2 persen ketimbang periode yang sama tahun sebelumnya yang sekira 141,787 juta ton. Khusus untuk Oktober, jumlah barang yang diangkut melalui kapal laut mencapai 12,66 juta ton atau turun 2,27 persen ketimbang bulan sebelumnya yang mencapai 12,95 juta ton. Namun, jumlah penumpang angkutan laut bulan Oktober 2008 mencapai 705,27 ribu orang. Mengalami kenaikan sebesar 39,42 persen ketimbang bulan September yang mencapai 505,86 ribu orang.

C. KESIMPULAN DAN SARAN

Melihat kondisi krisis financial global saat ini, tampaknya masi akan berlanjut selama beberapa waktu ke depan. Ini berarti, nilai tukar rupiah terhadap dollar masih akan terus fluktuatif dan harga BBM juga belum dapat disinyalir untuk stabil. Maka dari itu harus dilakukan beberapa upaya untuk membantu sektor transportasi agar dapat terus bertahan. Untuk mengurangi dampak krisis, pemerintah perlu menurunkan harga bahan bakar minyak (BBM) atau mencabut subsidi BBM untuk kendaraan pribadi dengan memanfaatkan momentum turunnya harga minyak dunia.

Untuk sektor transportasi darat, kenaikan harga BBM akan terus menjadi momok, masih pula ditambah dengan naiknya harga onderdil kendaraan bermotor. Akan lebih baik bila penghematan dilakukan pada biaya penggantian suku cadang tersebut. Hal ini dapat dilakukan apabila pemerintah mendukung dengan membangun infrastruktur jalan yang baik, sehingga kerusakan onderdil kendaraan dapat diminimalisir.

Penurunan harga premium juga hendaknya diperhatikan oleh para pelaku usaha kendaraan umum, agar menjadi bahan pertimbangan dalam menentukan tariff yang adil bagi para konsumennya.

Pada sektor penerbangan, efisiensi merupakan upaya yang dapat dilakukan pihak perusahaan untuk mengurangi biaya. Teknologi penerbangan sekarang dapat diupayakan untuk menekan biaya bahan bakar, meniadakan makanan bagi para penumpang, selain itu penumpang juga dapat mendukung efisiensi dengan membawa barang seringan mungkin. Sebab, dengan bobot lebih ringan, konsumsi BBM pesawat lebih sedikit. Di negara lain, bandara juga memberikan dana promosi bila sebuah maskapai membuka atau menambah frekuensi penerbangan di rute itu. Insentif ini belum dikenal di Indonesia, padahal cukup membantu maskapai bersangkutan, untuk hal ini diperlukan adanya dukungan dari pemerintah. Hal lainnya adalah penurunan pajak pertambahan nilai (PPN) atas bahan bakar pesawat (avtur) untuk membantu maskapai penerbangan nasional menyikapi tekanan akibat krisis keuangan global.

Pada sektor transportasi laut, Asosiasi Logistik Indonesia mengungkapkan perbaikan jalur distribusi di laut akan sangat membantu penurunan biaya transportasi antarpulau sehingga mendukung industri dalam negeri, sementara barang konsumsi lokal pun bisa bersaing dengan barang impor.

tugas man risk

September 9, 2008

Profil Bank Mandiri

Bank Mandiri berdiri pada tanggal 2 Oktober 1998 sebagai bagian dari program restrukturisasi perbankan yang dilaksanakan oleh Pemerintah Indonesia. Pada bulan Juli 1999, empat bank milik pemerintah yaitu Bank Dagang Negara, Bank Bumi Daya, Bank Ekspor Impor Indonesia dan Bank Pembangunan Indonesia, bergabung menjadi Bank Mandiri. Pada saat ini, berkat kerja keras lebih dari 21.000 karyawan yang tersebar di 909 kantor cabang dan didukung oleh anak perusahaan yang bergerak di bidang Investment Banking, Perbankan Syariah serta bancassurance , Bank Mandiri menyediakan solusi keuangan yang menyeluruh bagi perusahaan swasta maupun milik Negara, komersiil, usaha kecil dan mikro serta nasabah consumer. Pada tanggal 14 Juli 2003, Pemerintah Indonesia melakukan divestasi sebesar 20% atas kepemilikan saham di Bank Mandiri melalui penawaran umum perdana (IPO). Selanjutnya pada tanggal 11 Maret 2004, Pemerintah Republik Indonesia melakukan divestasi lanjutan atas 10% kepemilikan di Bank Mandiri.

Bank Mandiri saat ini merupakan bank terbesar di Indonesia dalam jumlah aktiva, kredit dan dana pihak ketiga. Total aktiva per 31 Desember 2005 sebesar Rp 254, 3 triliun (USD25,9 miliar) dengan pangsa pasar sebesar 18,0% dari total aktiva perbankan di Indonesia. Jumlah dana pihak ketiga Bank Mandiri sebesar Rp 199,0 triliun atau sama dengan 17,6% dari total dana pihak ketiga secara nasional, dimana jumlah tabungan merupakan 16% dari total tabungan secara nasional,. Begitu pula dengan pangsa pasar deposito berjangka sebesar 19,1% dari total deposito berjangka di Indonesia. Selama tahun 2005, pertumbuhan dana pihak ketiga kami sebesar 5,8%, sementara pertumbuhan kredit sebesar 13,3%. Bank Mandiri memiliki struktur permodalan yang kokoh dengan Rasio Kecukupan Modal (Capital Adequacy Ratio-CAR) sebesar 23,7% pada akhir tahun 2005, jauh diatas ketentuan minimum Bank Indonesia sebesar 8%.

Resiko Bank Mandiri

Resiko pada dasarnya berarti peluang adanya ancaman atau kerugian. Apabila dihubungkan kepada dunia perbankan maka merupakan kejadian-kejadian ( risk event ) yang buruk yang menciptakan kerugian financial / non financial secara langsung maupun tidak langsung. Bank Mandiri sebagai Bank terbesar di Indonesia juga tidak terlepas dari 8 resiko perbankan yang utama. 8 resiko utama tersebut adalah :

a. Resiko pasar

Bank Mandiri menghadapi resiko akan nilai tukar mata uang asing dan juga tingkat suku bunga. Resiko kurs valuta asing timbul karena fluktuasi nilai rupiah terhadap dollar AS. Kemudian untuk resiko tingkat suku bunga timbul karena adannya perubahan tingkat suku bunga yang dapat mempengaruhi nilai dari aktiva berbunga tetap.

b. Resiko operasional

Fasilitas fisik, kejahatan dan bencana merupakan resiko operasional Bank Mandiri. Fasilitas fisik seperti mesin penghitung uang, computer, telepon, mesin fotokopi yang dapat saja rusak sewaktu-waktu karena adanya umur produk ataupun terjadi pencurian fasilitas fisik di kantor dan bencana-bancana seperti kebakaran, gempa bumi, dan sebagainya.

c. Resiko kredit

Resiko kredit berarti adanya potensi kerugian yang timbul akibat kegagalan bayar debitur terkait atau counter party-nya. Di Indonesia dikenal dengan istilah kredit macet. Saat ini Bank Mandiri paling banyak memberikan kredit kepada usaha mikro. Hal ini dilakukan karena resiko yang lebih kecil dibanding dengan memberikan kredit kepada usaha korporasi. Saat ini NPL Bank Mandiri sudah dibawah 5 % ( ketentuan Bank Indonesia )

d. Resiko likuiditas

Pada dasarnya ada dua resiko likuiditas yaitu apabila Bank tidak mampu untuk memenuhi kewajibannya untuk membayar tanggungan yang jatuh tempo seperti deposito dan market liquidity risk.

e. Resiko hukum

Resiko Hukum didefinisikan sebagai resiko yang disebabkan oleh kelemahan pada dokumentasi kredit dan surat berharga atau dokumen hukum lainnya.

f. Resiko strategic

Resiko ini berkaitan dengan resiko pada setiap pengambilan keputusan strategis Bank Mandiri.

g. Resiko reputasi

Resiko yang timbul akibat adanya ketidakpuasan pelanggan akibat pelayanan yang tidak memuaskan. Hal tersebut dapat merusak citra Bank Mandiri di mata nasabah dan masyarakat.

h. Resiko kepatuhan

Resiko yang mungkin timbul bila Bank Mandiri melakukan kebijakan atau keputusan di luar ketentuan perundang-undangan.

SOLUSI ATAS RESIKO

Semua Bank nasional memiliki manajemen resiko untuk mengatasi resiko-resiko yang terjadi di perbankan nasional, begitu pula dengan Bank Mandiri. Struktur tata kelola manajemen risiko Bank yang kuat menjadi dasar evaluasi keseimbangan antara risiko dan tingkat pengembalian untuk menghasilkan pendapatan yang berkesinambungan, mengurangi fluktuasi pendapatan serta meningkatkan nilai bagi pemegang saham. Pengelolaan manajemen resiko tersebut ada lima, yaitu :

a. Risk Management Objective

pengalokasian modal secara efisien guna mendapatkan keuntungan yang optimal dan mengurangi kejutan kejutan ( surprises). Metode yang Bank gunakan adalah memilih aktiva produktif maupun kegiatan-kegiatan bank yang dapat terukur secara efektif dalam kerangka risiko risk and return yang disesuaikan dengan kultur perusahaan, kemampuan modal, organisasi dan infrastrukturnya. Sangat penting bagi Bank untuk memahami masalah-masalah bisnis dan investasi di mana Bank melakukan investasi sehingga Bank dapat mengumpulkan data dan informasi serta melakukan sensitivity analysis, baik atas faktor faktor internal dan eksternal terhadap pendapatan sebelum memutuskan melakukan investasi.

b. Risk Appetite

bergantung pada kemampuan kita untuk mengantisipasi dan mengukur besaran risiko. Dengan menggunakan batasan-batasan ( limits), Bank dapat memastikan seluruh risiko telah terdiversifikasi dengan baik dan seluruh portofolio tersebar dengan baik pula, sesuai dengan target pasar kita dan memenuhi seluruh proses transaksi, kebijakan serta prosedur.

c. Risk Management Process

dikelola berdasarkan tahapan-tahapan yang sistematis sebagai berikut:

Risk awareness

Risk identification

Risk monitoring

Risk mitigation

Risk awareness dilakukan melalui sosialisasi yang intensif, lokakarya dan pelatihan yang berkesinambungan untuk membangun risk culture bagi seluruh karyawan.

d. Risk Management Infrastructure

menggambarkan dengan jelas peranan masing-masing dalam organisasi guna menjalankan fungsi Manajemen Risiko, kebijakan dan prosedur untuk mengkomunikasikan aspek-aspek penting dari proses-proses, metodologi untuk memperkirakan besarnya potensi kerugian, sistem analisis serta laporan yang tepat waktu.

e. Risk Environment

meliputi pengembangan kultur yang sesuai yang mendukung pendekatan risiko yang tepat, komunikasi yang tepat mengenai manfaat manajemen risiko, pelatihan untuk memastikan bahwa organisasi mengikuti teknik yang terbaru dan hubungan antara pengambilan risiko, penilaian kinerja dan kompensasi untuk menekankan tanggung jawab pada tingkat perorangan.

Hello world!

August 25, 2008

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!